- Advertisement -
Culture JapanLifestyle

Wabi-Sabi: Filosofi Imperfeksi dari Jepang

Sebuah Seni Untuk Menghargai Apa yang Dimiliki

Wabi-Sabi: Filosofi Imperfeksi dari Jepang

IDNation.net – Pada masa perkembangan teknologi dan sosial seperti saat ini, tentu rasa puas sebagai manusia akan terasa susah untuk dipenuhi. Tuntutan kehidupan, rasa ingin tahu, ambisi,  dan berbagai faktor lainnya dapat merubah pandangan manusia yang awalnya menganggap dirinya “cukup” menjadi “tidak cukup”.  Lalu apakah ada cara untuk mendapatkan rasa puas di zaman modern seperti sekarang? Mungkin ideologi tradisional Jepang wabi-sabi ini dapat membantu kalian.

 

Apa yang dimaksud dengan Wabi-Sabi?

Kata wabi-sabi cukup susah untuk diartikan. Pada dasarnya wabi-sabi berasal dari dua kata yang berbeda. Wabi (侘) dalam bahasa Jepang dapat berarti kesepian, kesendirian. Berbeda dengan kata kesepian yang biasa dipakai di kalimat sehari-hari, wabi dipakai untuk menggambarkan rasa kesepian yang muncul dari suatu kehidupan di alam, yang berada jauh dari masyarakat. Sebagai contoh, kalian dapat membayangkannya seperti petapa yang menyendiri di gunung.

Source: Oku Japan

 

Sebaliknya, sabi (寂び) akan lebih mudah diartikan ke dalam bahasa lain. Sabi dapat didefinisikan menjadi “dingin” atau “layu”. Kalimat ini juga memilik cara baca yang sama dengan 錆び (karat).  Jelas terlihat kalau kata sabi ini memiliki hubungan dengan “degradasi” atau “”penurunan”, namun hal itu bukanlah suatu kebetulan karena jika kalian menterjemahkan kata ini, maka hasil terjemahan yang akan muncul adalah “kesepian”.

Source: twitter

 

Seiring berjalannya waktu, makna dari kata tersebut mulai berubah ke arah yang lebih positif. Wabi sekarang dikonotasikan sebagai “kesunyian”, “kesederhanaan”, yang muncul dari objek alam ataupun buatan manusia. Sedangkan sabi dapat dikonotasikan sebagai keindahan, atau ketenangan yang muncul seiring bertambahnya usia. Kedua kata tersebut perlahan-lahan mulai mendekat sampai dapat menggantikan arti satu sama lain, dan umumnya menyatu sampai memberi makna, “kesederhanaan dari perdesaan”, atau “keindahan yang muncul seiring bertambahnya usia”.

Konsep Dasar Wabi-Sabi

Meski ada banyak interpretasi dari wabi-sabi, tetapi filosofi ini hampir tidak pernah ada dituliskan, melainkan diajarkan secara lisan dari guru ke muridnya secara tidak langsung. Apabila ditelusuri lebih lanjut, akar dari wabi-sabi terdapat di dalam ajaran Buddha yaitu “Tiga Corak Kehidupan” atau dalam bahasa Jepangnya, sanboin. Bukan hanya sebagai filosofi dan gaya hidup, konsep wabi-sabi juga mulai digunakan dalam berbagai macam bentuk, salah satunya adalah tembikar.

Source: pinterest

Kerajinan keramik di atas terlihat berantakan, tetapi apakah keramik tersebut tidak memiliki nilai estetika? Dibandingkan dengan warna dan desain yang detail,  warna dan bentuk sederhana seperti ini juga tidaklah kalah dalam segi estetika.  Contoh lain yang terkenal adalah seni kintsugi, sebuah teknik untuk menambal tembikar yang retak dengan emas.

Source: Colossal

 

Implementasi wabi-sabi dalam kegiatan sehari-hari

 

Sejauh ini wabi-sabi digambarkan dalam bentuk benda atau kepribadian seseorang. Tetapi apakah ada efek dari wabi-sabi sendiri ke dalam kegiatan sehari hari kita semua?  Tentu saja, contohnya adalah seperti 3 hal ini.

  • Rumah

 

Dalam beberapa tahun ini, wabi-sabi sendiri telah menjadi sumber inspirasi bagi para desainer interior profesional. Konsepnya adalah menggunakan apa yang kamu miliki, dan tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan. Daripada mementingkan visual yang keren, bukankah lebih baik jika membeli barang yang akan bertahan lama sampai kalian tua nanti. Seperti meja kayu yang diturunkan dari generasi ke generasi dibawahnya, dimana ada goresan yang memiliki kisah tersendiri, tentunya benda seperti ini akan terasa lebih berharga dan memiliki nilai estetika yang tinggi.

  • Dapur

 

Kalian sering melihat bekal  di anime atau manga, dimana dalam kotak bekal tersebut tersusun berbagai manakan secara rapi? Mungkin beberapa dari kalian yang mendapatkan bekal dari orang tua sewaktu kecil (atau sampai sekarang) akan merasa iri dengan bekal tersebut. Tetapi Wabi-sabi memberikan pandangan baru dalam hal ini, dimana makanan dalam kotak bekal tersebut sebenarnya tidak perlu disusun secara sempurna. Pikirkan saja, pada dasarnya bekal dari rumah bukan menjadi favorit atas keindahan visualnya, melainkan cerita dan rasa kasih sayang dari orang tua kalian yang membuatnya. Bangun di pagi hari untuk menyiapkan makanan untuk kalian saat di sekolah nanti, tentu bukan sesuatu yang bisa diukur melalui keindahan susunan makanan dalam kotak bekal bukan?

  • Tempat Kerja

 

Bagi para kalian yang sudah bekerja, deadlines, tekanan eksternal, kesempurnaan tentunya sudah menjadi makanan sehari-hari, dan karena itulah kalian mulai menyusun jadwal yang padat dengan berbagai multitasking. Multitasking sendiri banyak dikatakan hanya menghambat produktivitas kalian, walau terasa pekerjaannya mulai selesai, tetapi kenyataannya perhatian kalian teralihkan sampai waktunya habis. Jangan takut untuk menggunakan trik dari wabi-sabi, yaitu tetap fokus ke satu tugas sampai selesai. Tutup tab browser yang tidak perlu dan mulailah bekerja, tugas kalian bisa selesai lebih cepat dari dugaan.

Cobalah untuk melihat keseharian kalian dalam sudut pandang yang berbeda, seperti saat kalian stress akibat munculnya kerutan di wajah, pikirkan tawa dan senyum yang membuat kerutan tersebut muncul. Atau ketika kalian memiliki bekas luka, pikirkan bekas luka tersebut sebagai pengingat akan kisah hidup yang kalian lalui. Dengan begitu nampaknya kehidupan akan menjadi lebih memuaskan.

Menurut kalian bagaimana interpretasi dari wabi-sabi itu sendiri? Dan bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari? Silahkan isi di kolom komentar.

Source: savvytokyo, Wikipedia-EN

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry
Yahya Pambudhi
the authorRiiya
Ordinary Anon