- Advertisement -
Culture JapanEntertainment

Insight: Geisha – Budaya lama Jepang yang Tetap Hidup

Kesenian Jepang yang hidup dan bergerak

Insight: Geisha – Budaya lama Jepang yang Tetap Hidup

IDNation.net – Jepang sangatlah terkenal dengan budaya tradisionalnya yang tetap hidup walaupun di era modern seperti sekarang, salah satu dari budaya tersebut adalah geisha. Memang tidak sedikit orang yang menghubungkan geisha dengan prostitusi, namun kenyataannya tidaklah demikian. Geisha yang sesungguhnya tidak akan menjual tubuhnya, tetapi keahlian dan keanggunan mereka.

Geisha dalam bahasa Jepang tersusun atas dua kata, yaitu 芸 (Gei) yang berarti “seni“, dan 者 (Sha) yang berarti “orang yang melakukan“. Seperti yang dikutip dari novel terkenal Memoirs of a Geisha, geisha bukanlah wanita penghibur, mereka bukanlah istri dari seseorang, tetapi mereka merupakan sebuah kesenian yang hidup dan berjalan. Geisha sendiri dapat dikatakan sebagai “ahli” dalam kesenian tradisional dan hospitalitas (kesantunan) terhadap para tamunya.

Ryoutei di Asakusa, Tokyo

Geisha pada dasarnya bekerja sebagai pendamping tamu pada restoran tradisional Jepang yang dikenal sebagai Ryoutei, dimana pada restoran tersebut sering diadakan rapat politik atau pertemuan bisnis kelas atas karena kerahasiannya yang sangat terjaga. Selain bisa memakai dandanan tradisional dan memilih kimono secara mandiri, mereka juga ahli dalam berbagai kesenian seperti menari, bernyanyi, memainkan alat musik, etika, serta keanggunan. Hal itulah yang membuat geisha sangatlah menarik bagi banyak orang. Tamu bagi para geisha sering kali berasal dari politisi atau dari perusahaan ternama. Dan tentu saja, sebagai pendamping, geisha harus dapat memahami topik pembicaraan dari para tamunya agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Kemampuan tersebut tentunya tidak bisa diperoleh secara instan, oleh karena itu seorang geisha harus menjalani latihan yang panjang untuk bisa tampil di depan para tamunya.

Perbandingan antara Maiko dan Geisha

Kebanyakan para calon geisha akan masuk ke dalam okiya (rumah geisha) saat mereka berumur 14 atau 15 tahun. Disana mereka akan belajar banyak hal seperti etika, seni menata bunga, upacara minum teh, dan lain-lain. Setelah mereka berhasil melewati masa latihan, para calon geisha tersebut akan mendapatkan gelar Maiko atau yang dikenal dengan murid geisha. Maiko sendiri masih harus berlatih untuk mengasah kemampuannya mulai pagi hari sampai malam, dan kemudian dilanjutkan untuk mendampingi para tamunya di ryoutei. Salah satu yang membedakan antara maiko dan geisha adalah dandanan yang mereka gunakan. Dandanan maiko memiliki warna merah yang lebih dominan dibandingkan dengan geisha, hal tersebut digunakan untuk mengekspresikan dirinya yang masih berusia muda.

Ukiyo-e Yoshiwara pada zaman Edo

Pada zaman Edo, geisha banyak dilihat sebagai sebuah kesempatan bagi para kaum wanita. Dahulu kala di distrik hiburan terkenal yang bernama Yoshiwara yang memiliki sekitar 3000 wanita penghibur yang bekerja disana. Pada pesta dimana para tamunya sedang bersenang-senang, geisha ikut menghibur para tamu tersebut dengan pertunjukan seni dan pembicaraan. Melihat hal itu, Jepang mulai menaruh batas tegas yang membedakan geisha dengan wanita penghibur dan menaikan status mereka. Pada zaman tersebut orang-orang sudah tahu kalau pekerjaan sebagai geisha sebenarnya tidaklah mudah, tetapi tetap saja mereka mengidolakan geisha layaknya selebritis terkenal. Selain itu geisha juga dikenal sebagai trend setter produk kecantikan atau semacamnya yang diiklankan melalui ukiyo-e.

Iklan ukiyo-e bedak putih oleh geisha

Walaupun di era modern seperti sekarang jumlah geisha sudah menurun, tetapi pekerjaan ini masih tetap hidup. Beberapa wanita sendiri melihat pekerjaan geisha sebagai bentuk dari feminism. Pada zaman sekarang, begitu banyak pilihan pekerjaan yang lebih stabil dan berpenghasilan besar seperti dokter atau membuka usaha sendiri, tetapi sebagian wanita lebih memilih untuk menjadi geisha atas keinginan mereka sendiri. Mereka mempunyai banyak pilihan untuk masa depannya, tetapi dengan melihat keindahan dari geisha membuat mereka terinspirasi untuk menjadi salah dari mereka. Dengan kepopuleran seperti itu, bahkan ada geisha yang berasal dari luar Jepang seperti dari Ukrania atau China. Tidak berhenti sampai disitu, kepopuleran geisha juga dapat kita temui dalam karya literatur milik Arthur Golden dalam bukunya yang begitu terkenal yaitu Memoirs of a Geisha. Selain itu, ada beberapa komik yang mengangkat geisha atau maiko sebagai tema utamanya seperti :REverSAL  dan Maiko-san Chi no Makanai-san. 

Komik :REverSAL (kiri) dan Maiko-san Chi no Makanai-san (kanan)

Sekian ulasan pendek mengenai geisha dalam serial Japan insight, nantikan ulasan-ulasan baru mengenai budaya Jepang yang unik dan menarik berikutnya.

Sumber: Japanology +, Wikipedia-EN, Historicalhoney, Foxnews

0
like
0
love
0
haha
0
wow
0
sad
0
angry
Yahya Pambudhi
the authorRiiya
Ordinary Anon